Masihkah “Abang-Adik”?

Dulu sekitar tahun 1980-an, Indonesia dan Malaysia ibarat abang yang selelu memberi contoh pada adik nya, bagaimana cara belajar, berkreasi dan berusaha, tapi kini hubungan “abang-adik” ini bak kisah seorang adik (Malaysia) yang merasa sudah berhasil melampaui kemampuan sang kakak (Indonesia), apa pun itu, hubungan manis ini seharusnya tetap dijaga, adik boleh lebih dari abang, tapi tidak boleh mencontek kerjaan abang, benar kan ?

Kisah ini jika ditilik jauh lebih pada sisi sejarah, pada era Presiden Soekarno ada semboyan yang terucap, “ganyang Malaysia!!”, Bung Karno mungkin menganggap DNA sang adik ini adalah DNA yang tidak baik, yang merupakan bentukan negara sekutu penjajah. Masa berganti pada era Presiden Soeharto, hubungan erat Pak Harto dengan Perdana Menteri Mahatir Muhammad sangat baik, bisa mencerminkan istilah “abang-adik” tersebut, Petronas belajar pada Pertamina, mahasiswa asal Malaysia belajar di Universitas-universitas Indonesia, dan masih banyak lagi program-program kerjasama lainnya.

Photobucket

Hasil “akuisisi” sang adik atas abang nya, Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan.

Pada era millenium ini, Malaysia mengalami perkembangan yang cukup pesat ketimbang sang abang, hal ini wajar dialami banyak negara-negara berkembang lainnya, namun ini menjadi awal mula masalah-masalah abang dan adik ini. Mulai dari permasalahan pulau sipadan-ligitan, sang adik berupaya “mengakuisisi” milik abang-nya, namun pulau bukanlah persoalan bisnis keluarga yang bisa di bagi-bagi, kemudian masalah TKI yang sangat menyudutkan sang abang sekali lagi, lalu tak ketinggalan persoalan kebudayaan karya masyarakat negara sang abang ikut diakui seperti lagu-lagu daerah dan tarian, masyarakat Malaysia boleh saja berkata budaya adalah sesuatu yang dapat menyatukan, tapi menyatukan apa? masyarakat di negeri sang adik mengatakan tidak peduli soal pengakuan budaya itu, namun kenapa video komersial soal pariwisata Malaysia itu tetap ada. Dunia infotainment pun tak ketinggalan dengan hasil “akuisisi” buruk sang adik perihal Manohara Odelia Pinot, yang beberapa waktu lalu marak di media.

Photobucket

Tari Pendet asal Bali (Indonesia).

Abang selalu mengalah, namun adik semakin tidak tahu diri, bagaimana dengan teroris Noordin M. Top & Dr. Azahari ? mereka masih tercatat sebagai warga negara Malaysia, inikah balasan yang diberikan sang adik pada abang ? Adik memang selalu menyusahkan sang abang…

Advertisements

4 Responses to Masihkah “Abang-Adik”?

  1. zulqa says:

    abang adik? saya pun tidak mengakui indonesia itu abg atau adik…. kerana itunya begitu rapat…apakata kita cuma cakap serumpun … itu lebih bagus….

    saya tidak pedduli orang indonesia benci malaysia sebenci2 nya… namun jika tarian pendet itu menyebabkan berlakunya percakaran… ambil lah kami tidak mahu mengaku milik kami… itunya silap teknikal…

    saya tidak ada kepentingan pada indonesia…. saya hanya kesian pada rakyat2 kamu yang merenpat miskin dtg ke negara kami mcm2 cara ada yang halal dan ada yang masuk secara haram….namun biarlah… jika mereka bersungguh2 hanya untuk mencari rezeki disini

    kamu indonesia juga jgn bersikap biadap seperti mahu swepping malaysia dgn buluh runcing… itu sikap yang tidak bertamadun… kamu tidak malu kah bersikap begitu? jgn menuduh kami maling-maling…teriak2 macam beruk,…..apa yang kami maling dari kamu? tarian pendet? jika itu hak kamu… ambillah kami sedikit pun tak hingin….. apa sgt tarian pendet jika nak dibandingkan dengan pembagunan yang canggih dan moden dimalaysia ini…kami disini tidak heran lah….

    saya pun tidak suka menghina… mengutuk dengan keras-kerasnya , kerana bagi saya kita semua serumpun….budaya yang nenek moyang kita hampir sama….ada kesilapan itu oleh sesetengah invidu sahaja…bukan semua rakyat malaysia sebegitu… saya ucapkan salam nusantara kepada indonesia..sempena bulan syawal yang mulia ini saya memohon maaf kepada pihak malaysia jika byk kesalahan walaupun saya tidak terlibat… dan malaysia tidak berniat untuk maling… jangan lah kita menguar-uar …menteriak-teriak tentang perihal yang tak tahu unjungnya…

    salam sahabat….. malaysia

  2. atik says:

    masih kot.sbab bila indonesia dilanda bencana malaysia masih membantu.cuma penasaran nordin mat top orang malaysia tetapi kok bahasanya kayak indonesia?mungkin dapat didikan jdi terorist di indonesia.nordin cuma sorang tpi kenapa terorist indonesia lain ngikut nordin musnah negara sendiri?

  3. irwanarfandi says:

    wah2…untuk zulqa, kami bangsa Indonesia memang tidak se-modern negeri anda tentu nya, tapi kami masih punya harga diri dan tidak bodoh tentunya ketika pulau kami di ambil oleh negeri anda (malaysia).

    apakah kami benci malaysia? bisa ya bisa tidak, tergantung respon negeri anda, dan kalau budaya kita sama, itu salah, tidak pernah ada budaya hindu bali di malaysia (untuk tari pendet) dan dunia mengakui sekarang kalau batik milik Indonesia.

    Permasalahan modern? peralatan canggih? itu hal mudah saja, ada uang jalan lah langsung, ada 20 juta TKI (Indonesian workers) di sana dan penduduk malaysia hanya 25 juta, itulah fakta nya, tidak masalah karena itu adalah pilihan dari pada pekerja itu sendiri.

    tapi perlu di ingat, KAMI BANGSA INDONESIA selalu BANGGA MENJADI INDONESIA…hidup atau mati…hanya UNTUK INDONESIA.

    salam sahabat,

    DARI TANAH AIR INDONESIA TERCINTA

  4. irwanarfandi says:

    untuk atik…persoalan noordin m top biarkanlah sudah ada aparat berwenang yang menanganinya langsung, persoalan cara bicara noordin, sama seperti bagaimana orang canada dan orang amerika serikat, susah di bedakan, semacam itulah malaysia dan indonesia.

    salam,

    INDONESIA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: