Mengenal Lebih Jauh: Malcolm Baldrige, Jr.

March 16, 2013

Selamat pagi!

Untuk rekan-rekan yang saat ini bekerja di BUMN (Badan Usaha Milik Negara) tentu sudah akrab dengan akan diterapkannya KPKU BUMN (Kriteria Penilaian Kinerja Unggul BUMN) yang dimandatkan oleh Kementerian Badan Usaha Miliki Negara. Namun, ulasan kali ini tidak akan membahas terlalu jauh mengenai KPKU BUMN, saat ini kita akan membahas lebih dekat lagi seseorang dibalik nama Malcolm Baldrige Criteria for Performance Excellent (MBCfPE) atau Malcolm Baldrige National Quality Awards (MBNQA) yang menjadi referensi utama dari KPKU BUMN tersebut.

Malcolm Baldrige, Jr. (Lahir 4 Oktober 1922 di Nebraska, Amerika Serikat), merupakan pejabat menteri perdagangan (Secretary of Commerce) Amerika Serikat pada masa kerja Presiden Ronald Reagan (1981 – 1987), sebelum meninggal disaat masih menjabat sebagai menteri perdagangan. Kiprahnya sebagai Secretary of Commerce cukup fenomenal dengan Pemerintahan Uni Soviet (USSR) untuk menjajagi kemungkinan perusahaan-perusahaan Amerika untuk memasuki pasar Uni Soviet selama 7 tahun masa jabatannya di level kabinet.

Malcolm_BaldrigeMalcolm Baldrige, Jr., (sumber: nist.gov)

Malcolm Baldrige juga mendapat tugas penting dari Presiden Reagan untuk mengatasi kecurangan dalam perdagangan (unfair trade) di Amerika Serikat. Prestasi lain dari Baldrige adalah dengan mereduksi anggaran kementerian perdagangan Amerika Serikat hingga 30 % dan biaya administrasi personil hingga 25 %.

Sekilas prestasi Baldrige dapat disamai oleh menteri-menteri lain diberbagai era di Amerika Serikat, namun Baldrige memiliki “tuah” dengan kriteria penilaian excellent yang digunakan hingga sekarang oleh berbagai instansi di seluruh dunia, dengan tajuk “Malcolm Baldrige National Quality Awards” (MBNQA).

Tulisan ini tidak bersifat empiris, karena penulis akan mencoba menyampaikan mengenai kriteria Baldrige lebih jauh lagi pada kesempatan-kesempatan lainnya. MBNQA merupakan awal bermula dari ketertarikan Baldrige terhadap bidang Quality yang menjadi alasan utama bagi country prosperity dan long-term strength.


Marshanda Stres ?

August 19, 2009

Kalau kita sejenak membaca buku-buku perilaku organisasi, maka akan terdapat sub pembahasan tentang stres dan faktor-faktor yang menyebabkannya. Menurut Handoko (1987), penyebab stres dapat dibedakan menjadi dua, yakni on-the-job dan off-the-job stres, namun untuk permasalahan artis muda bernama Marshanda ini nampaknya kita cukup menggunakan pedestrian common sense saja, karena rasanya cukup sulit untuk menafsirkan apa maksud dan penyebab dari perilaku Marshanda ini, perspectif yang digunakan adalah human resource management atau malah manajemen pemasaran yang kurang jitu, tapi itu juga masih belum cukup, karena konsep location, location and location yang dilakukan oleh Marshanda ini sangat tidak pada tempat nya.

Human Resource vs Marketing vs Common Sense

Apabila perspektif human resource dianggap terlalu luas, dan konsep marketing dianggap tidak strategis, melihat apa yang dilakukan oleh Marshanda, saya mengutip perkataan dosen saya yang cukup “kena” untuk saya pakai guna menganalisis perilaku Marshanda ini, ” I know you are not smart, then use your common sense, even your sense is not common!”

Sebagai pengguna common sense (sejauh ini saya mengerti), saya akan menafsirkan perilaku Marshanda yang diperlihatkan pada situs Youtube. Analisis saya adalah sebagai berikut :

1. Marshanda memang mengalami stres yang di akibatkan oleh tekanan pekerjaan atau malah tidak mendapatkan job yang cukup karena kalah bersaing dengan Cinta Laura atau Shireen Sungkar.

2. Marshanda mempromosikan diri nya dengan sangat buruk sebagai aktris protagonis yang dengan mudah nya menyebut teman-teman di pendidikan dasar (SD).

3. Marshanda mencari sensasi dengan mengunakan media yang salah, ini mungkin disebabkan oleh kurang nya job, karena memasarkan bakat sebagai pemeran protagonis di tempat yang gratis, dan dengan mudah nya di unduh oleh orang lain.

Namun saya hanya berkata secara tidak sengaja, tapi saya tetap mendukung Marshanda untuk tetap melakukan yang terbaik, karena di masa depan dunia perfilman dan sinetron Indonesia masih membutuhkan bakat nya yang telah diasah dari masa kanak-kanak. Semangat!

Bibliography

Handoko, T. Hani. 1987. Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia. BPFE-Yogyakarta.

Cuplikan video Marshanda


BMW Keep Workers On The Job

January 26, 2009

Photobucket

When many automotive companies dismiss and fired workers, BMW take different policy for their workers, no fired in 2009, their policies is making short job hours for their workers, to reduce the productivity decrease this year. In This January 21th, BMW announce that their 26.000 workers in Germany will be have full job in this april.

In the year of 2008, BMW sales all over the world has decreased, in December, for example, their sales decreases almost at 25 % in the same periods compared to a year before (2007). In early of 2009, BMW believe their new release models, Z4 and Serie 7, will improving their sales again.


Bob Sadino : Pengusaha Beda…

January 24, 2009

Pria ini kerap di panggil dengan sebutan “om bob”, jum’at (23 Januari 2009) ini mendatangi kampus Magister Manajemen Universitas Gadjah Mada dalam acara talk show yang diadakan oleh Marketing Club MM UGM. Dalam kesempatan kali ini om bob banyak sekali menerima banyak pertanyaan dari kalangan akademisi dan pengusaha di daerah Yogyakarta, dan om bob menjawab nya dengan santai, serta tidak lupa om bob juga menggunakan pakaian “dinas” yaitu cela pendek.

Kilas Balik

Pria berpakaian ”dinas” celana pendek jin dan kemeja lengan pendek yang ujung lengannya tidak dijahit, ini adalah salah satu sosok entrepreneur sukses yang memulai usahanya benar-benar dari bawah dan bukan berasal dari keluarga wirausaha. Pendiri dan pemilik tunggal Kem Chicks (supermarket), ini mantan sopir taksi dan karyawan Unilever yang kemudian menjadi pengusaha sukses.

Photobucket

Bob Sadino, Indonesia Entrepreneur & Kem Chicks Owner

Titik balik yang getir menimpa keluarga Bob Sadino. Bob rindu pulang kampung setelah merantau sembilan tahun di Amsterdam, Belanda dan Hamburg, Jerman, sejak tahun 1958. Ia membawa pulang istrinya, mengajaknya hidup serba kekurangan. Padahal mereka tadinya hidup mapan dengan gaji yang cukup besar.

Sekembalinya di tanah air, Bob bertekad tidak ingin lagi jadi karyawan yang diperintah atasan. Karena itu ia harus kerja apa saja untuk menghidupi diri sendiri dan istrinya. Ia pernah jadi sopir taksi. Mobilnya tabrakan dan hancur. Lantas beralih jadi kuli bangunan dengan upah harian Rp 100.

Suatu hari, temannya menyarankan Bob memelihara ayam untuk melawan depresi yang dialaminya. Bob tertarik. Ketika beternak ayam itulah muncul inspirasi berwirausaha. Bob memperhatikan kehidupan ayam-ayam ternaknya. Ia mendapat ilham, ayam saja bisa berjuang untuk hidup, tentu manusia pun juga bisa.

Sebagai peternak ayam, Bob dan istrinya, setiap hari menjual beberapa kilogram telor. Dalam tempo satu setengah tahun, ia dan istrinya memiliki banyak langganan, terutama orang asing, karena mereka fasih berbahasa Inggris. Bob dan istrinya tinggal di kawasan Kemang, Jakarta, di mana terdapat banyak menetap orang asing.

Tidak jarang pasangan tersebut dimaki pelanggan, babu orang asing sekalipun. Namun mereka mengaca pada diri sendiri, memperbaiki pelayanan. Perubahan drastis pun terjadi pada diri Bob, dari pribadi feodal menjadi pelayan. Setelah itu, lama kelamaan Bob yang berambut perak, menjadi pemilik tunggal super market (pasar swalayan) Kem Chicks. Ia selalu tampil sederhana dengan kemeja lengan pendek dan celana pendek.

Photobucket

Bob Sadino’s style of business meeting

Bisnis pasar swalayan Bob berkembang pesat, merambah ke agribisnis, khususnya holtikutura, mengelola kebun-kebun sayur mayur untuk konsumsi orang asing di Indonesia. Karena itu ia juga menjalin kerjasama dengan para petani di beberapa daerah.

Bob percaya bahwa setiap langkah sukses selalu diawali kegagalan demi kegagalan. Perjalanan wirausaha tidak semulus yang dikira. Ia dan istrinya sering jungkir balik. Baginya uang bukan yang nomor satu. Yang penting kemauan, komitmen, berani mencari dan menangkap peluang.

Di saat melakukan sesuatu pikiran seseorang berkembang, rencana tidak harus selalu baku dan kaku, yang ada pada diri seseorang adalah pengembangan dari apa yang telah ia lakukan. Kelemahan banyak orang, terlalu banyak mikir untuk membuat rencana sehingga ia tidak segera melangkah. “Yang paling penting tindakan,” kata Bob.

Keberhasilan Bob tidak terlepas dari ketidaktahuannya sehingga ia langsung terjun ke lapangan. Setelah jatuh bangun, Bob trampil dan menguasai bidangnya. Proses keberhasilan Bob berbeda dengan kelaziman, mestinya dimulai dari ilmu, kemudian praktik, lalu menjadi trampil dan profesional.
Menurut Bob, banyak orang yang memulai dari ilmu, berpikir dan bertindak serba canggih, arogan, karena merasa memiliki ilmu yang melebihi orang lain.

Sedangkan Bob selalu luwes terhadap pelanggan, mau mendengarkan saran dan keluhan pelanggan. Dengan sikap seperti itu Bob meraih simpati pelanggan dan mampu menciptakan pasar. Menurut Bob, kepuasan pelanggan akan menciptakan kepuasan diri sendiri. Karena itu ia selalu berusaha melayani pelanggan sebaik-baiknya.

Bob menempatkan perusahaannya seperti sebuah keluarga. Semua anggota keluarga Kem Chicks harus saling menghargai, tidak ada yang utama, semuanya punya fungsi dan kekuatan.

Sekilas tentang om bob memberikan kita sebuah gambaran perjalan sukses pria Indonesia, di dalam talk show di MM UGM, om bob mengingatkan bahwa kegagalan adalah sebuah proses untuk kesuksesan, dan sebuah universitas kehidupan bagi para pelaku nya.

Some Source :

http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/b/bob-sadino/index.shtml


HRM at La Furia Roja / Spain National Football Team

January 22, 2009

On June 29, 2008, Spain defeated Germany 1-0 in the finals of the 2008 UEFA European Football Championship (2008 Euro Cup) at Vienna to win the coveted cup.

The last time they won this championship (or any other major championship) was way back in 1964. Since then, Spain had not managed to win any major international football (soccer) tournament despite having some of the best individual players in its ranks.

Photobucket

Euro 2008 Champions Celebration, Madrid July 2008

In Spain, football is the most popular sport and has been played since the early 19th century. The nation has a glorious history in football. However, its domestic leagues earned more international acclaim than the national football team, which despite having a rich talent pool remained an underachiever on most occasions. Over the years, the Spanish national team gave many famous football legends to the football fraternity such as Alfredo Di Stefano, Kubala, Luis Suarez, Zamora, Santillana, Michel, and Butragueño, but when it came to performance as a national team, it found going past the initial rounds or the quarter finals in major tournaments such as the World Cup and the Euro Cup a hard task.

The Spanish national team’s lack of success in major tournaments was primarily attributed to a lack of team spirit and of the killer instinct.

Experts reasoned that the lack of team spirit was mainly due to the fact that there was intense rivalry between the different regions of Spain. They pointed out that the various regions were divided as far as culture and political outlook were concerned. In such a situation, it was very difficult for the members of the team to play as a unit, they said.

Some analysts considered the appointment of José Luis Aragonés Suárez (Aragonés) as coach of the Spanish national team a seminal moment in turning around the fortunes of the Spanish football team. Aragonés’ appointment came shortly after Spain’s debacle in the 2004 Euro Cup.

By the 2000’s, the underachievement of the Spanish national team had become somewhat legendary. Cesar Menotti, famous Argentine coach and football player, once famously said that Spain would never win anything in the international arena until the team decided if it wanted to be “the bull or the bullfighter”.

Enter Aragones

Shortly after Spain’s debacle in the 2004 Euro Cup, coach Iñaki Sáez was replaced by Aragonés. The veteran Spanish player and coach who was in his mid-60s, was entrusted with the responsibility of rebuilding the team for the 2006 World Cup (Refer to Exhibit I for a note on Aragonés). Aragonés soon realized that the major problem with the team was not lack of talent – in fact, it had some of the best players of the country – it was its lack of unity and positive attitude which were the big stumbling blocks.

Photobucket

Luis Aragones, Spanish Euro 2008 Coach

Spain 2008 Cup Campaign

Before embarking on their 2008 Euro Cup campaign, the squad went to meet the 1964 winning team to draw inspiration from them. “We must go with a winning mentality. After that: what will be, will be. But psychologically, it must be nothing but positive to achieve the championship,” said Aragonés.

Analysts commented that the tournament saw a new Spanish team, made up of not just a bunch of talented players but a group of players who had learnt to put the team’s need ahead of individual aspirations.

Experts said that it was the team spirit of the Spanish team that had made the difference. The team had always had great players but this time, they played as a team rather than a group of individuals and placed the team’s interests above individual aspirations.

Check Sources


Harga BBM turun? Langkah Strategis atau Politis? tarif angkutan tidak ikut turun

January 15, 2009

Minggu ini harga BBM turun kembali ke kisaran Rp.4,500 rupiah, ini merupakan sebuah langkah yang cukup tepat yang diambil pemerintah, di saat guncangan bencana finansial global yang menimpa dunia, pemerintah berani mengambil langkah bijak untuk rakyat.

Photobucket

Langkah pemerintah ini bisa dikategorikan sebagai langkah strategis untuk mengantisipasi kebutuhan masyarakat yang kian bertambah. Namun ada keraguan dari beberapa pihak bahwa hal ini merupakan kebijakan yang bersifat politis, mengingat semakin dekatnya pemilu 2009, dimana Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan kembali mencalonkan diri sebagai presiden periode 2009 – 2014. Hal ini berkaitan dengan opini masyarakat yang ingin dibangun oleh pemerintah dari hal-hal yang paling vital, salah satunya adalah harga BBM, untuk kembali mendapatkan suara positif dari masyarakat berkat turunnya harga BBM.

Kemudian bagaimana dengan tarif angkutan yang tidak ikut turun seiring turunnya harga BBM?  turunnya harga BBM tak terlalu berpengaruh terhadap turunnya tarif angkutan dalam kota. Penurunannya tak terlalu signifikan.

Photobucket

Masalahnya, dalam perhitungan pengaruh komponen harga bahan bakar terhadap harga pokok atau tarif, penurunan harga bahan bakar setiap 10 persen, hanya berpengaruh sebesar 2,8 persen hingga 3,4 persen terhadap penurunan tarif.

Secara sederhana, tarif angkutan darat dalam kota yang biasanya sebesar Rp 2.500 – Rp 6.000, dengan perhitungan di atas, paling banyak hanya akan berkurang sekitar Rp 100-200. Perhitungan ini juga tergantung pada jenis angkutannya. Pengaruh komponen harga bahan bakar terhadap tarif angkutan darat sebesar 28-34 persen, terhadap angkutan laut sebesar 50-55 persen sedangkan untuk angkutan udara sekitar 50-60 persen.

Namun demikian, penurunan tarif yang signifikan akan terjadi pada angkutan-angkutan yang memiliki tarif tetap, seperti angkutan antar kota.

Some Sources :

http://www.kompas.com/read/xml/2008/10/29/12251118/harga.bbm.turun.tarif.angkot.sulit.turun


Marketing at Manchester United Cafe in Indonesia

January 11, 2009
Manchester United Football Clubs, one of the big four in The English Premier League has many extended business outside football competitions, such as merchandise, clothing and cafe.

Lets talk about The MU Cafe, in Paris Van Java Mall in Bandung, Indonesia, we can see one of MU cafe in Indonesia. This cafe is under licensed of Manchester United Food and Beverage (MUFB) is a Singapore holding company awarded the exclusive rights by Manchester United Football Club (“MUFC”) to own, operate, license and develop a chain of Manchester United restaurants & bar concept in Asia Pacific region. Territories include China, Singapore,Malaysia, Brunei, Indonesia, Thailand, Hong Kong, Taiwan, Korea, Japan, India, and the Philippines. These restaurant & bar outlets mark MUFC’s first foray into casual dining business on an international scale.

Our goal is to establish Manchester United Restaurant & Bar as a leading operator and license of casual dining restaurant and bar in the Asia Pacific Region.For our venture In Indonesia – PT Manchester United Food & Beverage, our major local joint venture partner is Mr Tomy Winata of the Artha Graha Group.

Marketing at The Cafe

Manchester United Cafe promoted a Food and Beverages beside any kinds about MU at the cafe, sometimes MU cafe invite many artist to opened the event (big match or champion league final). This all about marketing, MU cafe also promoted they stuff will a different style, uniquely, and branded football things like history of manager, players and MU moments.

  • Then, they’re so many question about using Manchester United Brand is only focus to Manchester United Fans ? maybe this statement will answer the question…
“We understand the natural indifference that an outlet using the ‘Manchester United’ brand may bring to some which is why our focus will not be just about catering to Manchester United fans, but delivering great service and food standards to our customers – something which both groups of people would definitely value as part of their experience at any food and beverage outlet,” Andy Yun, CEO for MUFB, said.
  • Why Indonesia?..
Mr Peter Draper said, “Manchester United is one of the most famous names in world sport with a fan following of over 70 millions..44.many of whom live in Asia. We hope that with the opening of MURB (Manchester United Restaurant and Bar) in Jakarta, football fans in Indonesia will feel even closer to English football and the Red Devils. We think the enthusiasm for this project in Jakarta speaks volumes for the dynamism of the Indonesian people and their love of football. We’re obviously delighted to have such a flagship for the Club in one of the world’s fastest growing economies.”

“Jakarta was the obvious choice for expanding in this region as we are confident about the prospects of Jakarta, being the capital of Indonesia, and the excellent growth prospects due to the rising affluence of its population. Our restaurant and bar will also present the local and international community here with a brand new experience in sports themed dining and live entertainment”, said Mr John Lim, MUFB’s Chief Executive.

Sources :
http://www.manutd-cafe.com/media/PT_MUFBPressRelease_17Jan2006.pdf

http://www.marketing-interactive.com/news/10202