Refreshing Memory: (1) Local Government – DKI Jakarta

March 11, 2013

Beberapa waktu yang lalu masyrakat ibu kota DKI Jakarta dan Jawa Barat baru saja memiliki pejabat Gubernur dan Wakil Gubernur baru dari hasil Pemilihan Kepalda Daerah (Pilkada). Ibu kota DKI Jakarta memiliki Joko Widodo (Jokowi) dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), sedangkan Pilkada Jabar baru saja dimenangkan oleh pasangan Ahmad Heryawan (Kang Aher) dan Deddy Mizwar yang mewakili PKS.

Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana praktek-praktek administasi publik dan birokrasi berlangsung pasca pemilihan pejabat baru di lingkungan Provinsi tersebut ?

Administrasi publik secara harfiah merupakan sebuah kajian keilmuan tata kelola dan manajemen organisasi publik, dalam hal ini organisasi publik adalah Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta dan Provinsi Jawa Barat, yang memiliki tugas yang cukup banyak dalam pemerintahan secara regional provinsi. Gubernur dan Wakil Gubernur tentunya tidak saja tidak bekerja sendiri, namun memiliki perangkat-perangkat pendukung seperti Sekretaris Daerah, Walikota-Walikota, Bupati-Bupati, Lembaga Kedinasan hingga pejabat tingkat kelurahan.

Administrasi publik sekali lagi bukanlah proses pengadministrasian dokumen ataupun perijinan, namun merupakan hal yang lebih besar lagi, bahkan lebih besar dari konsep manajemen miliki Frederick Taylor, yaitu “proses menuju tujuan bersama”, saat ini lembaga publik tentunya dituntut untuk lebih transparan, akuntabel, terpercaya dan memiliki pelayanan prima. Hal tersebut bukanlah tugas mudah bagi pejabat baru Gubernur dan Wakil Gubernur, secara konseptual dan praktek mereka dituntut peka pada pengelolaan manajemen instansi, hingga peka pada permasalahan internal maupun eksternal instansi. Untuk lebih dalam lagi, mari kita bahas kedua provinsi tersebut lebih fokus lagi (Provinsi Jabar pada kesempatan lainnya).

Provinsi DKI Jakarta

Dengan terpilihnya pasangan Jokowi (alumni Fakultas Kehutanan UGM) dan Ahok (alumni Teknik Geologi Universitas Trisakti) untuk menempati pos Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, sebenarnya kiprah dari kedua pejabat tersebut layak untuk kita nantikan, berbekal pengalaman sebagai Wali Kota Solo dan Bupati Belitung Timur, kedua pasangan tersebut memiliki bekal secara konseptual dan praktek di level pemerintahan daerah tingkat II, kedua pasangan ini promosi sebagai Pejabat Daerah Tingkat I (Provinsi) yang menjadi Ibu Kota Republik Indonesia.

Joko Widodo dan Basuki Cahya Purnama (Ahok)Jokowi – Ahok. Sumber: politik.kompasiana.com

DKI Jakarta memiliki kompleksitas yang sangat berbeda dengan provinsi lainnya di Indonesia, yaitu soal kemacetan yang semakin parah yang diakibatkan oleh kepadatan penduduk dan kepemilikan mobil tanpa diimbangi dengan infrastruktur dan sarana transportasi yang memadai menjadi “penyakit kronis” provinsi tersebut.  Di samping itu persoalan padatnya modal dan perputaran uang yang terfokus di DKI Jakarta apabila dibandingkan dengan provinsi lainnya akan menjadi “pekerjaan rumah” tersendiri bagi Jokowi dan Ahok.

Secara infrastruktur, proyek-proyek pembenahan juga perlu dilakukan, salah satunya adalah penanggulangan banjir, dimana DKI Jakarta harus mempunyai “pori-pori” kota dalam bentuk saluran penampungan air yang dirancangan untuk setiap bangunan bertingkat di kawasan perkantoran maupun pemukiman, karena saat ini septic tank dan saluran pembuangan air lainnya sudah tidak mampu menampung “buangan” rutin warga Jakarta.

Diharapkan pengalaman dan pemahaman konseptual maupun praktek dari kedua pasangan ini yang sudah dikatakan berpengalaman dapat membuat Jakarta yang nyaman untuk ditinggali dan menjadi Ibu Kota negara yang “membanggakan” sebagai representatif Indonesia. Selamat bekerja Pak Jokowi! selamat bekerja Pak Ahok!


nlpeter, “refleksi musik Indonesia dari Belanda”

October 27, 2009

Nama aslinya adalah Peter Fennema, orang asli Belanda (Netherlands) dan cukup dikenal dikalangan situs youtube.com kemudian apa yang spesial dari orang Belanda ini? kalau anda pernah berpikir apakah lagu-lagu populer Indonesia juga populer di negeri orang? nlpeter adalah jawabannya, sejak tahun 2006, dirinya selalu membuat rekaman lagu-lagu Indonesia seperti lagu-lagu dari Chrisye (kisah kasih di sekolah), Peterpan (semua tentang kita), Andra and The Backbone (sempurna) dan yang paling terbaru adalah d’masiv (jangan menyerah), sebenarnya masih banyak lagu-lagu lain yang di cover oleh nlpeter, semuanya bisa anda saksikan dengan gratis di http://www.youtube.com/user/nlpeter1

Tidak hanya sekedar men-cover lagu-lagu Indonesia, kecintaannya terhadap negeri kita ini juga ia tunjukkan dengan konser-konser amal yang ia selenggarakan di Belanda, semua hasil kegiatan amal itu ia sumbangkan untuk korban-korban bencana alam yang terjadi di Indonesia. Diri nya pun aktif di Ranesi (Radio Netherland Siaran Bahasa Indonesia), radio di Belanda yang menyiarkan informasi dalam bahasa Indonesia. Peter sangat mengagumi budaya pop Indonesia, yang menurutnya sangat unik dan indah.

PhotobucketPeter Fennema (nlpeter)

Peter juga mengagumi sinematografi videoclip dari musisi dalam negeri (Indonesia), ini bukti bahwa apa yang kita kerjakan bisa menjadi sebuah “trend” di kalangan luas, banyak kita kunjungi di Indonesia, musisi muda yang berupaya sekuat tenaga untuk meniru musisi-musisi asia timur seperti Jepang dan Korea, namun inilah uniknya, ketika kita lupa akan “budaya” negeri sendiri, justru orang Belanda yang “kegandrungan” musik-musik kita, dan tanpa ragu mereka mengatakan, “Indonesian song’s is beautiful”.

Inilah bukti dimana dunia telah menjadi “flat”, pertukaran budaya bisa terjadi dimana saja, namun sekali lagi, Indonesia memang membanggakan! Peter dapat dikunjungi pada situs nlpeter.nl

nlpeter – jangan menyerah (d’masiv cover)


Marty Natalegawa: Profesional di Bidangnya

October 26, 2009

Ketika melihat kabinet Indonesia Bersatu-2 (2009-2011), hal yang paling saya tunggu-tunggu adalah siapakah menteri luar negeri Indonesia, pos ini akan diisi orang partai atau profesional karir. Jawaban atas itu pun terjawab, Dr. Raden Mohammad Marty Muliana Natalegawa, M.Phil., B.Sc. (Marty Natalegawa) terpilih sebagai menteri luar negeri Republik Indonesia menggantikan Nur Hassan Wirajuda yang telah menjabat selama dua periode pemerintahan.

Tidak perlu meragukan sepak terjang bapak kelahiran Bandung 22 Maret 1963 ini, nama nya cukup “beken” dikalangan mahasiswa dan departemen luar negeri, sebelum nya Marty Natalegawa adalah Duta Besar Indonesia untuk PBB, Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Britania Raya (United Kingdom), dan juru bicara Menteri Luar Negeri.

Photobucket

Dr. Marty Natalegawa, M.Phil (Menteri Luar Negeri Indonesia 2009-2014)

Banyak tugas yang telah diemban nya dengan sangat baik, ini memunculkan optimisme keseriusan SBY dalam pemerintahan versi keduanya ini, bahwa ada pesan bahwa profesionalisme tetap menjadi hal yang utama, ditengah-tengah pembagian kursi kabinet yang dinanti-nanti oleh Partai Koalisi. Marty Natalegawa akan memimpin Deplu dalam 5 tahun kedepan dan hal ini patut kita banggakan. Selamat bekerja Kang Marty!


Soekarno: Suara Bangsa Indonesia

September 1, 2009

Membicarakan pemimpin bangsa yang satu ini tidak akan pernah ada habis nya, sosoknya yang berapi-api, pintar, berani dan ikon sejati Indonesia. Saya berandai-andai, dengan permasalahan yang kita hadapi dengan negara tetangga (Malaysia) sekarang, maka apa yang akan dikatakan Soekarno ?

Soekarno, Presiden pertama Indonesia dan sang proklamator, sosok yang tangguh, berwibawa dan yakin akan kemandirian bangsa nya.

“Bung, apa yang harus kami lakukan ?”

Photobucket

Bung Karno dan Che Guevara, revolver!.


Masihkah “Abang-Adik”?

August 27, 2009

Dulu sekitar tahun 1980-an, Indonesia dan Malaysia ibarat abang yang selelu memberi contoh pada adik nya, bagaimana cara belajar, berkreasi dan berusaha, tapi kini hubungan “abang-adik” ini bak kisah seorang adik (Malaysia) yang merasa sudah berhasil melampaui kemampuan sang kakak (Indonesia), apa pun itu, hubungan manis ini seharusnya tetap dijaga, adik boleh lebih dari abang, tapi tidak boleh mencontek kerjaan abang, benar kan ?

Kisah ini jika ditilik jauh lebih pada sisi sejarah, pada era Presiden Soekarno ada semboyan yang terucap, “ganyang Malaysia!!”, Bung Karno mungkin menganggap DNA sang adik ini adalah DNA yang tidak baik, yang merupakan bentukan negara sekutu penjajah. Masa berganti pada era Presiden Soeharto, hubungan erat Pak Harto dengan Perdana Menteri Mahatir Muhammad sangat baik, bisa mencerminkan istilah “abang-adik” tersebut, Petronas belajar pada Pertamina, mahasiswa asal Malaysia belajar di Universitas-universitas Indonesia, dan masih banyak lagi program-program kerjasama lainnya.

Photobucket

Hasil “akuisisi” sang adik atas abang nya, Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan.

Pada era millenium ini, Malaysia mengalami perkembangan yang cukup pesat ketimbang sang abang, hal ini wajar dialami banyak negara-negara berkembang lainnya, namun ini menjadi awal mula masalah-masalah abang dan adik ini. Mulai dari permasalahan pulau sipadan-ligitan, sang adik berupaya “mengakuisisi” milik abang-nya, namun pulau bukanlah persoalan bisnis keluarga yang bisa di bagi-bagi, kemudian masalah TKI yang sangat menyudutkan sang abang sekali lagi, lalu tak ketinggalan persoalan kebudayaan karya masyarakat negara sang abang ikut diakui seperti lagu-lagu daerah dan tarian, masyarakat Malaysia boleh saja berkata budaya adalah sesuatu yang dapat menyatukan, tapi menyatukan apa? masyarakat di negeri sang adik mengatakan tidak peduli soal pengakuan budaya itu, namun kenapa video komersial soal pariwisata Malaysia itu tetap ada. Dunia infotainment pun tak ketinggalan dengan hasil “akuisisi” buruk sang adik perihal Manohara Odelia Pinot, yang beberapa waktu lalu marak di media.

Photobucket

Tari Pendet asal Bali (Indonesia).

Abang selalu mengalah, namun adik semakin tidak tahu diri, bagaimana dengan teroris Noordin M. Top & Dr. Azahari ? mereka masih tercatat sebagai warga negara Malaysia, inikah balasan yang diberikan sang adik pada abang ? Adik memang selalu menyusahkan sang abang…


Marshanda Stres ?

August 19, 2009

Kalau kita sejenak membaca buku-buku perilaku organisasi, maka akan terdapat sub pembahasan tentang stres dan faktor-faktor yang menyebabkannya. Menurut Handoko (1987), penyebab stres dapat dibedakan menjadi dua, yakni on-the-job dan off-the-job stres, namun untuk permasalahan artis muda bernama Marshanda ini nampaknya kita cukup menggunakan pedestrian common sense saja, karena rasanya cukup sulit untuk menafsirkan apa maksud dan penyebab dari perilaku Marshanda ini, perspectif yang digunakan adalah human resource management atau malah manajemen pemasaran yang kurang jitu, tapi itu juga masih belum cukup, karena konsep location, location and location yang dilakukan oleh Marshanda ini sangat tidak pada tempat nya.

Human Resource vs Marketing vs Common Sense

Apabila perspektif human resource dianggap terlalu luas, dan konsep marketing dianggap tidak strategis, melihat apa yang dilakukan oleh Marshanda, saya mengutip perkataan dosen saya yang cukup “kena” untuk saya pakai guna menganalisis perilaku Marshanda ini, ” I know you are not smart, then use your common sense, even your sense is not common!”

Sebagai pengguna common sense (sejauh ini saya mengerti), saya akan menafsirkan perilaku Marshanda yang diperlihatkan pada situs Youtube. Analisis saya adalah sebagai berikut :

1. Marshanda memang mengalami stres yang di akibatkan oleh tekanan pekerjaan atau malah tidak mendapatkan job yang cukup karena kalah bersaing dengan Cinta Laura atau Shireen Sungkar.

2. Marshanda mempromosikan diri nya dengan sangat buruk sebagai aktris protagonis yang dengan mudah nya menyebut teman-teman di pendidikan dasar (SD).

3. Marshanda mencari sensasi dengan mengunakan media yang salah, ini mungkin disebabkan oleh kurang nya job, karena memasarkan bakat sebagai pemeran protagonis di tempat yang gratis, dan dengan mudah nya di unduh oleh orang lain.

Namun saya hanya berkata secara tidak sengaja, tapi saya tetap mendukung Marshanda untuk tetap melakukan yang terbaik, karena di masa depan dunia perfilman dan sinetron Indonesia masih membutuhkan bakat nya yang telah diasah dari masa kanak-kanak. Semangat!

Bibliography

Handoko, T. Hani. 1987. Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia. BPFE-Yogyakarta.

Cuplikan video Marshanda


Conversation between JW Marriott Hotel Security with The Bomber a minute before The Bomb Explodes

July 18, 2009

Dikdik Ahmad Taufik, security supervisor of JW Marriott hotel, on 07.45 o’clock at Syailendra Lounge, “at the first, i’m was interested with that man”, Dikdik said to the jurnalists (18/07), “because of this man was carried big rolled bags and another big bags that putted in his front body, but my suspicion is why does he go to the lounge, not go to cashier, he look like wanna check out from the hotel”.

Dikdik (security): “good morning, what can i do, sir?”

Bomber: “morning, i’m just want to meet my boss inside”

Dikdik: “in what purpose, sir?”

Bomber: “just deliver my boss order”

Photobucket

The security check out the situation after the explosion (17/07) source

Dikdik said that he didn’t want have a complain from the visitor, then Dikdik prefer not to disturbed that man, but he told to his security friends to following the misterious man to the Syailendra Lounge.

Dikdik take his steps, in seconds count, “i’m heard the explosion but i’m didn’t fainted”, Dikdik said again, his friends that followed the bomber was saved, although get some serious injury. Hard for Dikdik to explain how the bomber looks like, but he will knowing the bomber, if he can see the photograph of the bomber.

In the year of 2003, Dikdik was there (JW Marriott), when the first bomb exploded, “glad to be survive after this bombs accidents”.

some source:
http://justnurman.wordpress.com/2009/07/18/inilah-percakapan-satpam-jw-marriott-dengan-teroris-sebelum-bom-meledak/