Dinamika Pemilu 2009 : Fatwa Haram Golput

January 6, 2009
Beberapa hari yang lalu, saya membaca tulisan dari seorang blogger yang menuliskan bahwa apabila fatwa haram bagi golongan putih pada pemilu 2009 ini diberlakukan akan sangat banyak sekali warga negara Indonesia yang berdosa dan masuk neraka, meskipun hanya lelucon namun pemikiran tersebut sangat menyegarkan, di masa-masa tidak menentu seperti sekarang ini. Usulan ini diajukan oleh Ketua Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hidayat Nurwahid, dan mengundang banyak pro-kontra dari berbagai elite politik di Indonesia.

Dari sekian banyak argumentasi dan penolakan, dapat diambil contoh, Partai Demokrat (PD) mengaku keberatan dengan adanya fatwa haram ini, Partai Demokrat menyatakan bahwa memilih pada pemilihan umum bersifat hak dan bukan suatu kewajiban. Tanggapan serupa juga diluncurkan oleh Guru Besar Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada, Prof. Amien Rais.

Gerakan Golongan Putih (Golput) ini jangan dihadapi dengan fatwa haram seperti ini, namun dengan sebuah pendekatan yang bersifat menghimbau akan penting nya memilih di saat pemilu 2009 nanti, karena akan menentukan nasib bangsa ini untuk kedepan nya.Fatwa haram ini apabila diberlakukan maka telah mencoreng perjuangan demokrasi yang telah dibangun selama ini, serta menunjukan bahwa Indonesia bukanlah negara yang dapat bersifat demokratis pada rakyat nya. Pemaksaan dalam bentuk seperti ini merupakan bentuk yang lebih tidak baik ketimbang era-presiden Soeharto, karena memakai nama tuhan untuk sebuah dosa yang notabene nya tidak ada di dalam kitab suci.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah ketelitian administrasi di dalam KPU dan tugas dari partai-parta untuk menyadarkan masyarakat agar melek politik dan pemilu, bukan dengan fakta haram yang terkesan mengada-ada.

Image Source :

www.surau.net