Masihkah “Abang-Adik”?

August 27, 2009

Dulu sekitar tahun 1980-an, Indonesia dan Malaysia ibarat abang yang selelu memberi contoh pada adik nya, bagaimana cara belajar, berkreasi dan berusaha, tapi kini hubungan “abang-adik” ini bak kisah seorang adik (Malaysia) yang merasa sudah berhasil melampaui kemampuan sang kakak (Indonesia), apa pun itu, hubungan manis ini seharusnya tetap dijaga, adik boleh lebih dari abang, tapi tidak boleh mencontek kerjaan abang, benar kan ?

Kisah ini jika ditilik jauh lebih pada sisi sejarah, pada era Presiden Soekarno ada semboyan yang terucap, “ganyang Malaysia!!”, Bung Karno mungkin menganggap DNA sang adik ini adalah DNA yang tidak baik, yang merupakan bentukan negara sekutu penjajah. Masa berganti pada era Presiden Soeharto, hubungan erat Pak Harto dengan Perdana Menteri Mahatir Muhammad sangat baik, bisa mencerminkan istilah “abang-adik” tersebut, Petronas belajar pada Pertamina, mahasiswa asal Malaysia belajar di Universitas-universitas Indonesia, dan masih banyak lagi program-program kerjasama lainnya.

Photobucket

Hasil “akuisisi” sang adik atas abang nya, Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan.

Pada era millenium ini, Malaysia mengalami perkembangan yang cukup pesat ketimbang sang abang, hal ini wajar dialami banyak negara-negara berkembang lainnya, namun ini menjadi awal mula masalah-masalah abang dan adik ini. Mulai dari permasalahan pulau sipadan-ligitan, sang adik berupaya “mengakuisisi” milik abang-nya, namun pulau bukanlah persoalan bisnis keluarga yang bisa di bagi-bagi, kemudian masalah TKI yang sangat menyudutkan sang abang sekali lagi, lalu tak ketinggalan persoalan kebudayaan karya masyarakat negara sang abang ikut diakui seperti lagu-lagu daerah dan tarian, masyarakat Malaysia boleh saja berkata budaya adalah sesuatu yang dapat menyatukan, tapi menyatukan apa? masyarakat di negeri sang adik mengatakan tidak peduli soal pengakuan budaya itu, namun kenapa video komersial soal pariwisata Malaysia itu tetap ada. Dunia infotainment pun tak ketinggalan dengan hasil “akuisisi” buruk sang adik perihal Manohara Odelia Pinot, yang beberapa waktu lalu marak di media.

Photobucket

Tari Pendet asal Bali (Indonesia).

Abang selalu mengalah, namun adik semakin tidak tahu diri, bagaimana dengan teroris Noordin M. Top & Dr. Azahari ? mereka masih tercatat sebagai warga negara Malaysia, inikah balasan yang diberikan sang adik pada abang ? Adik memang selalu menyusahkan sang abang…


Socialite Case : Manohara Odelia Pinot

April 26, 2009

Young Indonesian model, Manohara Odelia Pinot, Who married with Prince of Kelantan, Malaysia (Tengku Temmenggong Kelantan) was kidnapped and got a sexual harrashment from her husband. Some sites tell this is jokes and defend Malaysian Prince and his Kingdom of Kelantan, but this is not jokes for Indonesian peoples, this is was proved and need to be proceed later on.

Photobucket

Manohara Odelia Pinot.

Not to blame once again, but this is a truth that Malaysian also did un-racional things to Indonesian citizens that living in their country, for example is what happened to a lot of Indonesian workers (TKI) that got sexual harrashment or tortured by Malaysian.

To see this Manohara problems, in many perspective, such as many news was released, that Manohara’s mother selling her for enrich herself or to enter the socilite lifes, nobility, etc. The way that news report was unproved that Malaysian said, but this is a problems, we can not separate this from other posibility, just for assumtion.

And then, how this problems means for us as Indonesia peoples? not to blame once again, sometimes, for example Manohara’s mom who blind because of luxurious, just gives her daughter to Kelantan’s prince, that she assumed has position, luxurious and nobility, it is show that Indonesia have a lower bargaining position, in economics, politics and laws.

Should SBY involves in this problems? in his capability as president of Indonesia, SBY have a strong chance to solve this problems, but it is not president responsibility, this step can be putted to Indonesia Foreign Affairs Depatment, but Manohara’s case not that easy as we know, to much aspects to be involved in this case, let se how it is work?